Jumat, 16 Maret 2012

Problem Posing


Problem posing merupakan istilah dalam bahasa Inggris, sebagai padanan katanya digunakan istilah “merumuskan masalah (soal) atau membuat masalah (soal)”. Menurut Silver (Sutiarso, 2000) problem posing mempunyai beberapa arti. Pertama, peroblem posing adalah perumusan soal sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih sederhana dan dapat dikuasai. Kedua, problem posing adalah perumusan soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada soal yang telah dipecahkan atau alternatif soal yang masih relevan. Problem posing dimaksudkan perumusan masalah (soal) oleh siswa dari situasi yang tersedia atau soal yang diberikan oleh guru, yang dilakukan sebelum, ketika, dan setelah pemecahan masalah, misalnya guru mengajukan masalah/soal kepada siswa, selanjutnya siswa disuruh mengajukan pertanyaan-pertanyaan (masalah-masalah) yang mengarah kepada pemecahan masalah. Ketiga, problem posing yaitu merumuskan atau membuat soal dari situasi yang diberikan.
Pada dasarnya problem posing merupakan pengembangan dari pembelajaran dengan problem solving (pemecahan masalah). Pengembangan ini dapat dilihat dalam proses pembelajaran bahwa dalam problem posing diperlukan kemampuan siswa dalam memahami soal, merencanakan langkah-langkah penyelesaian soal, dan menyelesaikan soal tersebut. Ketiga langkah tersebut adalah bagian dari langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan problem solving (pemecahan masalah). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa  problem posing mempunyai korelasi yang positif dengan kemampuan pemecahan masalah (problem solving). Suryanto (Suharta, 2000) mengatakan bahwa problem posing matematika merupakan salah satu sistem kriteria penggunaan pola pikir matematik atau kriteria berpikir matematik dan sangat sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika.
Pembelajaran matematika melalui pendekatan problem posing mencakup dua macam kegiatan, yaitu:
1.      Membuat soal matematika dari situasi atau pengalaman siswa.
2.      membuat soal matematika dari soal lainyang sudak ada.
Dari kedua kegiatan tersebut, terdapat dua aspek penting yaitu accepting dan challeging. Accepting berkaitan dengan kemampuan siswa dalam memahami situasi yang diberikan oleh guru atau situasi yang sudah ditentukan. Sedangkan challeging berkaitan dengan sampai sejauah mana siswa merasa tertantang dari situasi yang diberikan sehingga memiliki kemampuan untk membuat soal matematika, sehingga problem posing matematika dapat membantu siswa untuk mengembangkan proses nalar mereka (Hamzah, 2003; 19).

Pembelajaran melalui pendekatan problem posing dapat meningkatkan pola pikir matematika yang sangat sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika. Ini berarti pembelajaran matematika dengan problem posing dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan keaktifan siswa siswa dalam belajar.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan manfaat dari pembelajaran dengan problem posing jika dikaitkan dengan problem solving diantaranya: hasil penelitian Silver dan Cai (Sutiarso, 2000: 629) adalah siswa yang dapat merumuskan soal matematis memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih tinggi dari pada siswa yang tidak dapat membuat soal. Penelitian lain dilakukan oleh Hashimoto (Sutiarso, 2000: 629) menunjukkan bahwa pembelajaran dengan problem posing menimbulkan dampak positif terhadap kemampuan siswa dalam problem solving. Bahkan, pembelajaran dengan problem posing dapat menimbulkan sikap positif siswa terhadap matematika.

Suryanto (1998: 5) mengemukakan beberapa petunjuk pembelajaran dengan problem posing, yaitu;

a)      Petunjuk pembelajaran yang berkaitan dengan guru
1.      Guru hendaknya mebiasakan merumuskan soal baru atau memperluas soal dari soal-soal yang ada di buku pelajaran.
2.      Guru hendaknya menyediakan beberapa situasi yang berupa informasi tertulis, benda manipulatif, gambar, atau yang lainnya, kemudian guru melatih siswa merumuskan soal dengan situasi yang ada.
3.      Guru dapat menggunakan soal terbuka dalam tes.
4.      Guru memberikan contoh perumusan soal dengan beberapa taraf kesukaran baik kesulitan isi matematika maupun kesulitan bahasanya.
5.      Guru menyelenggarakan reciprocal teaching, yaitu pembelajaran yang berbentuk dialog antara guru dan siswa mengenai sebagian isi buku tes, yang dilaksanakan dengan menggilir siswa berperan sebagai guru.

b)     Petunjuk pembelajaran yang berkaitan dengan siswa
1.       Siswa dimotivasi untuk mengungkapkan pertanyaan sebanyak-banyaknya terhadap situasi yang diberikan.
2.       Siswa dibiasakan mengubah soal-soal yang ada menjadi soal yang baru sebelum siswa menyelesaikan soal tersebut.
3.       Siswa dibiasakan untuk membuat soal-soal serupa/sejenis setelah menyelesaikan soal tersebut.
4.       Siswa harus diberanikan menyelesaikan soal-soal yang dirumuskan temannya sendiri.
5.       Siswa dimotivasi menyelesaikan soal-soal non rutin.