Problem
posing merupakan istilah dalam bahasa Inggris, sebagai padanan katanya
digunakan istilah “merumuskan masalah (soal) atau membuat masalah (soal)”.
Menurut Silver (Sutiarso, 2000) problem posing mempunyai beberapa arti.
Pertama, peroblem posing adalah perumusan soal sederhana atau perumusan ulang
soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih sederhana dan dapat
dikuasai. Kedua, problem posing adalah perumusan soal yang berkaitan dengan
syarat-syarat pada soal yang telah dipecahkan atau alternatif soal yang masih
relevan. Problem posing dimaksudkan perumusan masalah (soal) oleh siswa dari
situasi yang tersedia atau soal yang diberikan oleh guru, yang dilakukan
sebelum, ketika, dan setelah pemecahan masalah, misalnya guru mengajukan
masalah/soal kepada siswa, selanjutnya siswa disuruh mengajukan pertanyaan-pertanyaan
(masalah-masalah) yang mengarah kepada pemecahan masalah. Ketiga, problem
posing yaitu merumuskan atau membuat soal dari situasi yang diberikan.
Pada dasarnya problem posing merupakan pengembangan dari pembelajaran
dengan problem solving (pemecahan masalah). Pengembangan ini dapat dilihat
dalam proses pembelajaran bahwa dalam problem posing diperlukan kemampuan siswa
dalam memahami soal, merencanakan langkah-langkah penyelesaian soal, dan
menyelesaikan soal tersebut. Ketiga langkah tersebut adalah bagian dari
langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan problem solving (pemecahan
masalah). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
problem posing mempunyai korelasi yang positif dengan kemampuan
pemecahan masalah (problem solving). Suryanto (Suharta, 2000) mengatakan bahwa problem posing matematika merupakan
salah satu sistem kriteria penggunaan pola pikir matematik atau kriteria
berpikir matematik dan sangat sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika.
Pembelajaran matematika melalui pendekatan problem posing mencakup dua macam kegiatan, yaitu:
1. Membuat soal matematika dari situasi atau
pengalaman siswa.
2. membuat soal matematika dari soal lainyang
sudak ada.
Dari kedua kegiatan tersebut, terdapat dua aspek penting yaitu accepting dan challeging. Accepting berkaitan
dengan kemampuan siswa dalam memahami situasi yang diberikan oleh guru atau
situasi yang sudah ditentukan. Sedangkan challeging
berkaitan dengan sampai sejauah mana siswa merasa tertantang dari situasi yang
diberikan sehingga memiliki kemampuan untk membuat soal matematika, sehingga problem posing matematika dapat membantu
siswa untuk mengembangkan proses nalar mereka (Hamzah, 2003; 19).
Pembelajaran melalui pendekatan problem posing dapat meningkatkan pola pikir matematika yang sangat
sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika. Ini berarti pembelajaran
matematika dengan problem posing
dapat meningkatkan mutu pembelajaran dan keaktifan siswa siswa dalam belajar.
Beberapa hasil penelitian
menunjukkan manfaat dari pembelajaran dengan problem posing jika dikaitkan
dengan problem solving diantaranya: hasil penelitian Silver dan Cai (Sutiarso,
2000: 629) adalah siswa yang dapat merumuskan soal matematis memiliki kemampuan
pemecahan masalah yang lebih tinggi dari pada siswa yang tidak dapat membuat
soal. Penelitian lain dilakukan oleh Hashimoto (Sutiarso, 2000: 629)
menunjukkan bahwa pembelajaran dengan problem posing menimbulkan dampak positif
terhadap kemampuan siswa dalam problem solving. Bahkan, pembelajaran dengan
problem posing dapat menimbulkan sikap positif siswa terhadap matematika.
Suryanto (1998: 5)
mengemukakan beberapa petunjuk pembelajaran dengan problem posing, yaitu;
a)
Petunjuk pembelajaran yang berkaitan dengan guru
1.
Guru hendaknya mebiasakan merumuskan soal baru atau
memperluas soal dari soal-soal yang ada di buku pelajaran.
2.
Guru hendaknya menyediakan beberapa situasi yang berupa
informasi tertulis, benda manipulatif, gambar, atau yang lainnya, kemudian guru
melatih siswa merumuskan soal dengan situasi yang ada.
3.
Guru dapat menggunakan soal terbuka dalam tes.
4.
Guru memberikan contoh perumusan soal dengan beberapa
taraf kesukaran baik kesulitan isi matematika maupun kesulitan bahasanya.
5.
Guru menyelenggarakan reciprocal teaching, yaitu
pembelajaran yang berbentuk dialog antara guru dan siswa mengenai sebagian isi
buku tes, yang dilaksanakan dengan menggilir siswa berperan sebagai guru.
b)
Petunjuk pembelajaran yang berkaitan dengan
siswa
1.
Siswa dimotivasi untuk mengungkapkan pertanyaan
sebanyak-banyaknya terhadap situasi yang diberikan.
2.
Siswa dibiasakan mengubah soal-soal yang ada menjadi
soal yang baru sebelum siswa menyelesaikan soal tersebut.
3.
Siswa dibiasakan untuk membuat soal-soal serupa/sejenis
setelah menyelesaikan soal tersebut.
4.
Siswa harus diberanikan menyelesaikan soal-soal yang
dirumuskan temannya sendiri.
5.
Siswa dimotivasi menyelesaikan soal-soal non rutin.